Islam Dan Media: Membentuk Narasi Positif

Islam45 Dilihat

Agama Islam – Islam dan media: membentuk narasi positif merupakan topik menarik yang patut dibahas. Apalagi Indonesia sampai saat ini dikenal sebagai negara dengan populasi pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Fakta tersebut barangkali membuat beberapa orang berasumsi bila media-media di Tanah Air didirikan dengan basis agama yang cukup kuat. Benarkah demikian?

Sejarah singkat pers Islam

Untuk merancang narasi positif berimbang dalam media berbasis Islam, Anda perlu mengetahui pers Islam terlebih dulu. Disitat dari buku berjudul Ilmu Komunikasi: Sekarang dan Tantangan Masa Depan karya Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D, dijelaskan, pers Islam merupakan bagian komunikasi Islam. Jenis komunikasi tersebut, sesuai namanya, menggunakan nilai-nilai yang termaktub dalam Al-Quran dan sunnah Rasulullah Saw dalam praktiknya.

Sementara Hafidz Muftisany melalui bukunya Sumbangsih Pers Islam mengungkapkan, pers Islam memfokuskan pemberitaan ajaran-ajaran agama kepada pembaca pada segmen tertentu. Jadi kalau disimpulkan, pers Islam mempunyai tujuan menginformasikan nilai-nilai Islam yang dilakukan sesuai syariat agama, bahkan dijadikan sebagai media dakwah.

Lalu, kapan sebenarnya pers Islam muncul atau diperkenalkan? Berdasarkan sejumlah literatur, pers Islam kali pertama hadir pada abad ke-20 yang bersamaan dengan era reformasi di Timur Tengah, khususnya di Mesir. Pemberitaan pada masa tersebut ditujukan untuk kepentingan reformasi dengan majalah-majalah besar sebagai medianya.

Informasi tadi lantas sampai ke pulau Jawa yang memicu pendirian organisasi untuk membangun diskusi-diskusi seputar pemikiran Islam mutakhir. Pers Islam di Indonesia akhirnya terbit sampai berkembang pesat, terutama saat era reformasi terjadi pada 1998 silam.

Baca Juga:  Mengungkap Prinsip Agama Islam secara Komprehensif

Perkembangan pers Islam di era modern

Memasuki era modern, pers Islam terus mengukuhkan posisi dan eksistensinya. Kemajuan teknologi yang dibarengi perubahan zaman turut membantu media-media berbasis Islam dalam menyebarkan informasi dalam jangkauan luas. Hal ini mencakup jenis media yang digunakan, dari cetak (koran dan majalah) hingga portal berita online yang semakin menjamur kemunculannya.

Namun, kualitas pemberitaan, termasuk narasi-narasi positif, cenderung mengalami penurunan di tengah masifnya percepatan digitalisasi. Masyarakat lebih rentan terekspos hoaks atau berita palsu yang merugikan banyak pihak. Penggiringan opini oleh oknum-oknum tertentu untuk mencapai tujuan tertentu pun kian menyulitkan media-media berkualitas bagus untuk unggul sebagai pilihan pembaca.

Kenyataan ini tentunya terdengar miris saat terjadi di Indonesia. Agama yang semestinya menjadi pedoman hidup malah dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan bersifat negatif. Beberapa orang yang dulunya ingin mendalami Islam pun dibuat kecewa, lalu mengurungkan niat karena permainan kotor para oknum.

Jika sudah begini, apakah pers Islam masih mampu bertahan dan menyajikan narasi-narasi bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan? Anda tak perlu sanksi dulu, sebab meski pemberitaan digital lebih cenderung mengutamakan kecepatan ketimbang aktualitas, bukan berarti narasi positif tak dapat menjangkau audiensi yang diharapkan. Strategi yang tepat dan penyusunan berita sesuai kaidah dijamin akan membuatnya mampu bersaing.

Kaidah penulisan narasi pemberitaan

Pers Islam di Indonesia kini tak melulu memfokuskan pemberitaan pada ajaran agama. Beberapa portal bernafaskan agama Islam menyertakan pula informasi-informasi dari macam-macam kategori seperti politik, pendidikan, ekonomi, kesehatan, maupun teknologi. Bedanya, mereka kentara dalam memperlihatkan konten-konten Islami, bahkan porsinya lebih banyak dari portal non-basis agama.

Kendati begitu, penulisan dalam Islam dan media: membentuk narasi positif tetap perlu mengikuti standar jurnalistik yang berlaku di Indonesia. Tujuannya adalah untuk memastikan tulisan berimbang dan adil, faktual, dan dapat dipahami masyarakat luas. Adapun langkah-langkah yang dapat Anda ikuti untuk mengembangkan narasi yang bagus adalah:

Baca Juga:  Bagaimana Doa Niat Sholat Dhuha

Tentukan topik

Apa topik tentang keislaman yang ingin Anda kupas? Membahas hal ini pasti akan panjang, sebab Islam menyentuh berbagai aspek dalam kehidupan. Maka dari itu, Anda perlu menetapkan topik untuk memudahkan prosesnya supaya penulisan tak melantur atau kurang fokus. Menggunakan topik yang sedang trending atau viral bisa dilakukan sebagai langkah awal bagi pemula.

Temukan sumber valid

Ketika menulis narasi tentang keagamaan, sumber yang diperoleh tak hanya berasal dari buku, tokoh besar, atau cuplikan ceramah. Al-Qur’an dan hadis harus dilibatkan, terutama kalau pembahasannya menyangkut topik-topik yang dimuat dalam kedua sumber tersebut. Anda bisa menemui ahli supaya terjemahan atau penafsirannya tak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.

Penggalian data

Dalam menelusuri data di dunia jurnalistik, ada tiga metode yang dapat  dipilih. Di antaranya adalah wawancara, dokumentasi, dan observasi. Wawancara memungkinkan Anda menyusun peristiwa secara runut, sementara observasi membantu pengamatan langsung di lapangan. Dokumentasi pun lantas akan membantu Anda melengkapi data sebagai penunjang.

Pakai unsur 5W1H

Anda yang sudah terjun atau mempelajari jurnalistik pasti tak asing dengan 5W1H. Pada tahap ini, jurnalis atau wartawan akan menyusun informasi sekaligus mengecek kelengkapan data yang mereka perlukan. Unsur ini terdiri atas enam pertanyaan yang mencakup apa (what), siapa (who), dimana (where), kapan (when), mengapa (why), dan berapa atau bagaimana (how).

Buat headline

Selanjutnya, buat judul berita atau headline untuk narasi yang sudah Anda susun memakai 5W1H. Sekilas, menentukan headline terkesan mudah, tetapi dalam praktiknya dapat sulit kalau Anda belum mengetahui triknya. Disarankan untuk menggunakan judul singkat, tetapi mampu memuat informasi penting yang ingin disampaikan. Namun, jangan pakai clickbait yang akan merugikan pembaca.

Baca Juga:  Pandangan Islam Tentang Kematian Dan Kehidupan Setelah Mati

Rancang lead

Teras berita atau lead merupakan paragraf pembuka sebuah narasi pemberitaan. Lead biasanya pendek, hanya memuat 35 kata dengan pemakaian unsur apa (what) dan siapa (who). Anda dapat juga memakai kutipan atau nukilan narasumber yang berhubungan dengan headline. Dengan begitu, pembaca terus menyimak tulisan sampai akhir.

Tulis isi berita

Biasanya setelah menentukan headline dan lead, akan lebih mudah bagi Anda merangkai narasi pemberitaan. Meski begitu, tetap dianjurkan untuk memakai paragraf pendek yang tegas dan lugas dengan isi 3-4 kalimat. Langkah tersebut bertujuan untuk memudahkan penyampaian informasi kepada publik, sehingga mereka menerima manfaat secara menyeluruh.

Kemudian, sebagai umat Islam, jangan lupa juga menanamkan kebiasaan-kebiasaan berikut agar tulisan membawa berkah dan diridhoi Allah Swt:

  • Niatkan untuk menebar kebaikan. Ketika menulis narasi positif, misalnya tentang pandangan Islam terhadap ekonomi global dan keuangan, maka Anda harus niatkan juga kontennya untuk hal-hal baik agar bermanfaat untuk masyarakat luas;
  • Ingat hisab atas semua perbuatan. Setiap perbuatan yang dilakukan akan diperhitungkan kelak di Hari Akhir. Untuk itu, saat terbersit menulis sesuatu yang merugikan, ingat ada hisab yang menanti;
  • Selalu kroscek atau tabayun. Cepatnya fitnah yang tersebar di era modern berkaitan dengan malasnya masyarakat melakukan kroscek atau tabayun pada topik yang diangkat. Jadi sebaiknya, luangkan waktu dulu untuk mengecek kebenarannya.

Dengan memahami Islam dan media: membentuk narasi positif, Anda diharapkan mampu menulis pemberitaan bermanfaat bagi umat yang membutuhkan.