Yang Pertama Menyusul Rasulullah SAW

Setiap manusia pasti akan menghadapi kematian, termasuk orang-orang yang paling dicintai oleh Allah SWT. Dalam salah satu hadis yang disampaikan Rasulullah SAW, beliau pernah menyebutkan siapa di antara istri-istrinya yang pertama kali akan menyusulnya setelah wafat. Ustadz Khalid Basalamah dalam salah satu kajiannya menjelaskan kisah indah tentang hal ini, yakni mengenai Sayyidah Zainab binti Jahsy — istri Nabi yang dikenal dermawan, lembut, dan gemar bersedekah dengan tangannya sendiri.

Ringkasan Ceramah Ustadz Khalid Basalamah

Dalam video ceramah singkatnya, Ustadz Khalid Basalamah menyampaikan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda kepada istri-istrinya:

“Yang paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya.”

Mendengar sabda ini, para istri Nabi SAW pun penasaran dan mencoba mengukur tangan mereka. Mereka mengira maksud Rasulullah SAW adalah tangan secara fisik. Namun, setelah beberapa waktu, ternyata Sayyidah Zainab binti Jahsy adalah istri yang pertama kali wafat setelah Rasulullah SAW.

Barulah para istri Nabi menyadari bahwa makna “tangan panjang” yang dimaksud Rasulullah bukan secara fisik, melainkan mereka yang paling dermawan, yang gemar bersedekah dan membantu orang lain.

Ustadz Khalid menjelaskan bahwa Zainab binti Jahsy terkenal sangat gemar bersedekah, bahkan sering kali menggunakan tangannya sendiri untuk menjahit atau membuat sesuatu, kemudian hasilnya disedekahkan kepada fakir miskin. Ia tidak menunggu orang datang meminta, tetapi aktif mencari orang yang membutuhkan bantuan.

Kisah Sayyidah Zainab binti Jahsy

Sayyidah Zainab adalah wanita mulia yang berasal dari kalangan Quraisy. Ia adalah sepupu Rasulullah SAW — ibunya, Umaimah binti Abdul Muthalib, adalah bibi Nabi. Sebelum menikah dengan Rasulullah SAW, Zainab pernah menikah dengan Zaid bin Haritsah, anak angkat Nabi. Namun setelah Allah menurunkan wahyu yang menegaskan bahwa anak angkat tidak sama dengan anak kandung, Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk menikahi Zainab sebagai bentuk penghapusan tradisi jahiliyah.

Allah SWT berfirman:

“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau (Muhammad) dengan dia agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk menikahi istri-istri anak-anak angkat mereka…” (QS. Al-Ahzab: 37)

Zainab dikenal sebagai wanita yang taat, zuhud, dan sangat dermawan. Ia hidup sederhana meskipun termasuk keluarga mulia. Saat mendapatkan harta atau hadiah, ia tidak menyimpannya lama — selalu disalurkan kepada fakir miskin. Inilah sebabnya mengapa Rasulullah SAW menyanjungnya sebagai wanita dengan “tangan panjang.”

Keutamaan Sedekah dengan Tangan Sendiri

Salah satu pelajaran penting dari kisah ini adalah keutamaan sedekah yang dilakukan langsung oleh tangan sendiri. Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maknanya, orang yang memberi lebih mulia daripada orang yang meminta. Sayyidah Zainab bukan hanya memberi, tetapi ia melakukannya sendiri tanpa perantara, menunjukkan keikhlasan dan kerendahan hatinya.

Ustadz Khalid Basalamah menekankan, dalam konteks sekarang, sedekah bisa dilakukan dengan banyak cara: membantu tetangga, membiayai pendidikan anak yatim, mendukung dakwah Islam, atau memberi makan orang lapar. Yang penting adalah keikhlasan dan kesungguhan untuk membantu dengan tangan sendiri, bukan sekadar transfer tanpa niat ibadah.

Hikmah di Balik Wafatnya Sayyidah Zainab

Zainab wafat beberapa bulan setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Ia menjadi istri pertama yang menyusul beliau ke alam akhirat, sebagaimana sabda Nabi. Ketika beliau meninggal, para sahabat merasa kehilangan sosok wanita yang penuh kasih dan dermawan.

Wafatnya Zainab menjadi bukti nyata bahwa sedekah dan amal kebaikan adalah bekal terbaik menuju akhirat. Tidak ada amal yang lebih indah daripada membantu sesama dengan ikhlas, karena pahala sedekah terus mengalir meski pelakunya telah tiada.

Allah SWT berfirman:

“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Ayat ini menggambarkan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, justru menjadi sebab bertambahnya keberkahan.

Pelajaran Penting dari Kisah Ini

  1. Sedekah adalah ukuran keimanan. Semakin yakin seseorang kepada Allah, semakin ringan ia memberi.
  2. Makna “panjang tangan” bukanlah fisik, melainkan kemurahan hati.
  3. Beramal dengan tangan sendiri lebih bernilai. Zainab tidak sekadar memerintah orang untuk bersedekah, tetapi turun tangan langsung.
  4. Kematian adalah janji yang pasti. Maka sebaik-baiknya bekal adalah amal saleh.
  5. Perempuan salehah memiliki peran besar dalam dakwah. Zainab memberi teladan bagaimana wanita bisa menjadi dermawan dan beramal dengan penuh keikhlasan.

Penutup

Kisah Zainab binti Jahsy bukan hanya tentang istri Nabi yang pertama wafat setelah beliau, tetapi tentang keikhlasan seorang mukminah yang hidupnya diisi dengan memberi, bukan meminta. Ustadz Khalid Basalamah mengingatkan bahwa siapa pun yang ingin mendapatkan kemuliaan di sisi Allah hendaknya meneladani sifat dermawan Zainab — memberi dengan tangan sendiri, tanpa pamrih, dan hanya mengharap ridha Allah SWT.

Semoga kita termasuk orang-orang yang “panjang tangan” dalam arti yang sebenarnya: dermawan, ikhlas, dan gemar menolong sesama, sehingga kelak dapat menyusul Rasulullah SAW dalam keadaan husnul khatimah.