Setiap manusia pasti akan diuji dalam hidupnya. Tidak ada satu pun yang luput dari masalah—baik masalah keluarga, ekonomi, kesehatan, hingga persoalan hati. Namun, sebagai Muslim, kita diajarkan satu prinsip agung dalam menyikapi semua ujian itu: serahkan segalanya kepada Allah SWT.
Ustadz Muhammad Nurul Dzikri dalam ceramahnya menekankan pentingnya bertawakkal sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi setiap kesulitan hidup. Menyerahkan masalah bukan berarti menyerah, tetapi menaruh kepercayaan penuh kepada Allah sebagai sebaik-baiknya tempat bergantung.
Allah Maha Mengetahui Apa yang Terbaik
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini mengajarkan bahwa banyak dari masalah yang kita hadapi sebenarnya mengandung kebaikan tersembunyi. Seseorang mungkin kehilangan pekerjaan, namun ternyata hal itu menjadi jalan baginya untuk lebih dekat dengan Allah. Bisa jadi seseorang ditinggal oleh orang yang dicintai, namun di balik itu Allah siapkan pengganti yang lebih baik.
Ustadz Muhammad Nurul Dzikri menjelaskan bahwa berprasangka baik kepada Allah adalah bagian dari iman. Saat kita yakin bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya, maka hati akan lebih tenang dan lapang dalam menghadapi cobaan.
Bersandar kepada Allah, Bukan pada Makhluk
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan manusia saat tertimpa musibah adalah berharap terlalu banyak kepada sesama manusia. Padahal, makhluk memiliki keterbatasan, hanya Allah-lah yang tidak pernah mengecewakan hamba-Nya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa menggantungkan hatinya kepada sesuatu, maka ia akan diserahkan kepada sesuatu itu.”
(HR. Tirmidzi)
Maka ketika kita menggantungkan harapan pada manusia, bisa jadi kita kecewa. Tapi saat kita menyerahkan segalanya kepada Allah, Dia tidak akan pernah mengecewakan. Karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Tawakkal dan Doa adalah Kunci
Dalam ceramahnya, Ustadz Muhammad Nurul Dzikri juga mengingatkan bahwa bertawakkal harus diiringi dengan usaha dan doa. Kita tidak cukup hanya berkata “Saya serahkan kepada Allah,” lalu berdiam diri tanpa berbuat apa-apa.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
“Ikatlah untamu terlebih dahulu, kemudian bertawakkallah kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa tawakkal bukan alasan untuk malas atau menyerah, melainkan bentuk keimanan yang mengiringi ikhtiar sungguh-sungguh. Setelah usaha dilakukan, saat itulah hati digantungkan penuh kepada Allah, dan bukan pada hasil.
Keajaiban Datang Saat Kita Berserah
Salah satu momen paling indah dalam hidup seorang mukmin adalah ketika ia berserah dan Allah memberikan jalan keluar dari arah yang tak disangka-sangka.
Allah berfirman:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2-3)
Tawakkal dan kepasrahan sejati adalah bukti keimanan. Ketika seseorang berkata dalam hatinya: “Ya Allah, aku serahkan semuanya kepada-Mu,” maka itulah saat pertolongan Allah dekat.
Tanda Orang yang Menyerahkan Masalahnya kepada Allah
Dalam ceramah yang menyejukkan hati ini, Ustadz Muhammad Nurul Dzikri menyebutkan beberapa ciri orang yang benar-benar menyerahkan masalahnya kepada Allah:
- Hatinya tenang dan tidak panik dalam musibah.
- Tidak bergantung kepada manusia.
- Rajin berdoa, memohon, dan memperbanyak istighfar.
- Tetap menjalankan amal ibadah dengan baik.
- Menghindari keluh kesah yang berlebihan.
Dengan memiliki ciri-ciri tersebut, seorang Muslim akan menjalani hidup dengan hati yang kuat, lapang, dan penuh optimisme kepada rahmat Allah.
Penutup: Serahkan dan Yakinlah
Masalah bukanlah akhir dari segalanya. Dalam Islam, masalah adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, meningkatkan derajat kita di sisi-Nya, dan menjadi jalan turunnya keberkahan.
Ustadz Muhammad Nurul Dzikri mengajak kita semua untuk tidak menggantungkan harapan kepada dunia, melainkan menguatkan kebergantungan kepada Allah yang Maha Mengatur segalanya. Saat kita menyerahkan masalah kepada Allah, maka sejatinya kita sedang memberikan kunci hidup kita kepada Zat yang paling bisa mengaturnya dengan sempurna.
