Pendahuluan
Dalam hidup ini, setiap manusia pasti menghadapi berbagai peristiwa yang telah ditetapkan oleh Allah. Ada yang menyenangkan, ada pula yang penuh ujian. Sebagai seorang Muslim, kita diperintahkan untuk menerima takdir Allah dengan lapang dada, tetapi juga tetap berusaha dengan maksimal.
Konsep qadha dan qadar dalam Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah, namun bukan berarti kita boleh pasrah tanpa usaha. Ustadz Khalid Basalamah sering menekankan bahwa menerima takdir harus dibarengi dengan ikhtiar maksimal, karena Islam mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan usaha.
Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana menerima takdir Allah dengan ikhlas sekaligus melakukan usaha terbaik, sesuai dengan dalil dari Al-Qur’an dan hadis.
1. Takdir dalam Islam: Qadha dan Qadar
Takdir (qadar) adalah ketetapan Allah yang telah tertulis di Lauh Mahfuz jauh sebelum manusia diciptakan. Allah berfirman:
“Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Allah telah menetapkan takdir semua makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim)
Ayat dan hadis ini menegaskan bahwa segala sesuatu sudah tertulis dalam takdir Allah. Namun, bukan berarti kita hanya pasrah tanpa berusaha. Islam mengajarkan bahwa manusia tetap memiliki kehendak untuk berusaha dan memilih, meskipun hasil akhirnya tetap dalam ketetapan Allah.
2. Menerima Takdir dengan Ikhlas
Menerima takdir dengan ikhlas berarti tidak berputus asa atau menyalahkan keadaan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Sebagai hamba Allah, kita tidak selalu memahami hikmah di balik setiap kejadian. Oleh karena itu, menerima takdir dengan ikhlas akan membuat hati lebih tenang dan tidak mudah stres.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa setiap kejadian dalam hidup—baik atau buruk—bisa menjadi kebaikan jika kita menyikapinya dengan benar.
3. Ikhtiar Maksimal: Berusaha Sebaik Mungkin
Setelah menerima takdir, langkah berikutnya adalah berikhtiar atau berusaha secara maksimal. Allah tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali mereka berusaha mengubahnya sendiri. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Hadis Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya usaha:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki: ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Burung tidak hanya berdiam di sarangnya dan menunggu makanan, tetapi ia terbang mencari rezeki. Ini menunjukkan bahwa tawakal harus disertai usaha.
Beberapa contoh ikhtiar yang harus dilakukan:
- Dalam pekerjaan: Bekerja dengan tekun, jujur, dan profesional.
- Dalam kesehatan: Menjaga pola makan, berolahraga, dan berobat jika sakit.
- Dalam mencari ilmu: Rajin belajar dan mengamalkan ilmu yang diperoleh.
- Dalam menghadapi masalah: Mencari solusi terbaik sambil tetap berserah diri kepada Allah.
4. Keseimbangan antara Tawakal dan Ikhtiar
Tawakal adalah menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah berusaha maksimal. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi menyadari bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah.
Rasulullah ﷺ pernah menasihati seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa mengikatnya, dengan berkata:
“Ikatlah untamu, lalu bertawakallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Dari hadis ini, kita belajar bahwa tawakal tidak cukup hanya dengan berdoa, tetapi juga harus disertai tindakan nyata.
5. Kisah Teladan: Nabi Ya’qub AS
Salah satu contoh terbaik dalam menerima takdir dan berikhtiar adalah Nabi Ya’qub AS. Ketika putranya, Nabi Yusuf AS, hilang, beliau tetap bersabar dan berdoa kepada Allah. Namun, beliau juga berikhtiar dengan menyuruh anak-anaknya mencari Yusuf di Mesir.
Allah menceritakan dalam Al-Qur’an:
“Wahai anak-anakku! Pergilah dan carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Yusuf: 87)
Dari kisah ini, kita belajar bahwa meskipun diuji dengan kehilangan, Nabi Ya’qub tetap berusaha dengan mengutus anak-anaknya untuk mencari Yusuf. Sikap ini menunjukkan keseimbangan antara menerima takdir dan berikhtiar.
Kesimpulan
Menerima takdir Allah adalah tanda keimanan, tetapi Islam tidak mengajarkan kepasrahan tanpa usaha. Sebaliknya, kita harus berusaha maksimal dalam setiap aspek kehidupan.
Poin-poin penting dari artikel ini:
- Takdir telah ditetapkan oleh Allah, tetapi manusia tetap harus berusaha.
- Menerima takdir dengan ikhlas akan membuat hati lebih tenang.
- Ikhtiar maksimal adalah kewajiban setiap Muslim dalam segala aspek kehidupan.
- Tawakal bukan berarti pasrah, tetapi menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah berusaha.
- Kisah Nabi Ya’qub AS mengajarkan keseimbangan antara menerima takdir dan berikhtiar.
Semoga kita menjadi hamba yang selalu menerima takdir Allah dengan lapang dada, tetapi tetap berusaha dengan maksimal dalam setiap urusan. Aamiin.
