Mendoakan Diri Sendiri dengan Keburukan ketika Ditimpa Musibah

Musibah adalah bagian dari ujian hidup yang pasti menimpa setiap manusia. Tidak ada satu pun dari kita yang luput dari cobaan, baik dalam bentuk kehilangan, sakit, kemiskinan, kekecewaan, maupun tekanan hidup. Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang—tanpa sadar—meluapkan amarah dan kesedihannya dengan mendoakan keburukan atas dirinya sendiri, seperti berkata: “Aku ini memang tidak berguna”, “Lebih baik aku mati saja”, “Semoga aku celaka”, dan ucapan sejenisnya.

Dalam salah satu video ceramah singkatnya, Ustadz Khalid Basalamah mengingatkan keras tentang bahayanya mendoakan keburukan kepada diri sendiri ketika sedang dilanda musibah. Tindakan tersebut bukan hanya bertentangan dengan tuntunan syariat, tetapi juga membuka pintu keburukan yang lebih luas.

Larangan Mendoakan Keburukan atas Diri Sendiri

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”
(QS. Al-Isra’: 11)

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa manusia sering kali tergesa-gesa dalam berdoa, bahkan saat marah atau sedih, seseorang bisa saja mendoakan hal buruk yang bisa dikabulkan karena tidak berhati-hati dalam lisannya.

Ustadz Khalid menegaskan bahwa lisan yang tidak dijaga saat musibah bisa menjadi sebab terjadinya keburukan nyata di kemudian hari, karena doa seorang Muslim itu kuat, apalagi saat hati dalam keadaan sangat tersayat dan penuh perasaan. Ketika seseorang mengatakan hal negatif terhadap dirinya sendiri, bisa saja Allah mengabulkan perkataan tersebut.

Rasulullah ﷺ Melarang Doa Keburukan

Dalam hadis shahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah salah seorang dari kalian mendoakan keburukan atas dirinya sendiri, anaknya, atau hartanya, karena bisa jadi bertepatan dengan waktu di mana Allah mengabulkan doa kalian.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menjadi peringatan serius. Karena doa itu ibadah dan bisa dikabulkan kapan saja, maka berhati-hatilah dalam memilih ucapan, terutama saat kondisi emosional sedang tidak stabil.

Reaksi yang Benar saat Musibah

Ustadz Khalid menjelaskan bahwa dalam menghadapi musibah, Islam mengajarkan kesabaran dan kembali kepada Allah, bukan malah mencaci diri atau takdir. Allah ﷻ memuji orang-orang yang sabar dalam firman-Nya:

“Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’.”
(QS. Al-Baqarah: 155–156)

Dengan mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, seorang Muslim menyerahkan segalanya kepada Allah dan mengakui bahwa semua yang ia miliki hanyalah titipan yang bisa diambil kapan saja.

Ucapan Adalah Doa

Dalam video tersebut, Ustadz Khalid mengingatkan bahwa setiap ucapan adalah doa, terlebih dalam keadaan duka. Maka jika seseorang terus mengatakan hal negatif seperti “saya gagal”, “saya bodoh”, “saya pantas menderita”, itu bisa membentuk sugesti buruk yang tidak hanya berdampak spiritual tetapi juga mental.

Sebaliknya, Rasulullah ﷺ mengajarkan untuk selalu berpikir dan berbicara positif, meskipun dalam keadaan sulit. Beliau bersabda:

“Jangan kamu berkata: ‘Seandainya aku lakukan demikian, tentu akan begini atau begitu,’ tetapi katakanlah: ‘Qaddarallahu wa maa syaa’a fa’ala (Allah telah menetapkan dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi).'”
(HR. Muslim)

Solusi: Bersabar dan Memperbanyak Istighfar

Saat musibah menimpa, Ustadz Khalid menyarankan untuk memperbanyak istighfar dan doa-doa positif, seperti:

  • “Ya Allah, kuatkan aku.”
  • “Ya Rabb, berikan aku jalan keluar yang terbaik.”
  • “Ya Allah, berikan aku pahala dari musibah ini dan gantikan dengan yang lebih baik.”

Doa ini berasal dari sabda Nabi ﷺ:

“Barang siapa yang ditimpa musibah lalu mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ya Allah, berilah pahala atas musibahku ini dan gantilah dengan yang lebih baik,’ maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.”
(HR. Muslim)

Penutup: Jagalah Lisanmu saat Ujian Menimpa

Ujian dan musibah adalah bagian dari hidup. Tapi cara kita menyikapinya akan menentukan keberkahan atau murkanya Allah. Jangan pernah ucapkan sesuatu yang buruk kepada diri sendiri, karena Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa.

Bersabarlah, ucapkan yang baik, dan percayalah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang sabar dan bertawakal.