Islam adalah agama yang menata seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam hal kepemimpinan. Dalam video singkat yang disampaikan oleh Ustadz Khalid Basalamah, beliau menegaskan bahwa kewajiban mematuhi pemimpin yang sah dan terpilih secara syar’i merupakan bagian dari akhlak Islam yang luhur. Hal ini penting untuk menjaga persatuan umat, mencegah fitnah, dan mewujudkan stabilitas dalam masyarakat.
Mengapa Wajib Taat pada Pemimpin?
Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu.”
(QS. An-Nisa: 59)
Ayat ini menjadi dasar utama bahwa ketaatan kepada pemimpin (ulil amri) adalah bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam tafsir, ulil amri merujuk pada pemimpin yang sah, baik dalam aspek agama maupun pemerintahan.
Ustadz Khalid Basalamah menekankan bahwa selama pemimpin tersebut tidak memerintahkan kepada kemaksiatan, maka umat Islam wajib menaati perintahnya, mendukung kebijakan yang baik, dan mendoakannya agar diberikan hidayah dan kekuatan dalam memimpin.
Pemimpin yang Sah adalah Amanah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang mematuhi pemimpin, maka ia telah mematuhi aku, dan siapa yang durhaka kepada pemimpin, maka ia telah durhaka kepadaku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis ini jelas ditegaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin adalah bentuk loyalitas kepada Rasulullah ﷺ. Ustadz Khalid juga menyampaikan dalam videonya bahwa perbedaan pilihan dalam pemilu tidak boleh menyebabkan umat berpecah belah setelah pemimpin resmi terpilih.
Apabila umat Islam terus berselisih karena perbedaan pandangan politik, maka yang rugi adalah umat itu sendiri. Justru, persatuan umat merupakan bagian dari keberkahan.
Bolehkah Mengkritik Pemimpin?
Islam membuka ruang kritik, tetapi dengan adab dan saluran yang benar. Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita untuk mencaci atau menjelekkan pemimpin di depan umum. Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang ingin menasihati pemimpinnya, maka janganlah ia menyampaikannya secara terang-terangan. Hendaklah ia mengambil tangannya dan menasihatinya secara pribadi.”
(HR. Ahmad)
Maka dari itu, kritik terhadap pemimpin harus dengan cara yang santun dan menjaga martabat, bukan dengan ujaran kebencian, hoaks, apalagi fitnah.
Mengapa Harus Bersabar Terhadap Pemimpin?
Tidak semua pemimpin ideal menurut pandangan kita. Namun, Islam mengajarkan untuk bersabar dan tidak memberontak selama tidak ada kekufuran yang nyata.
Ustadz Khalid dalam ceramahnya mengutip sabda Rasulullah ﷺ:
“Akan ada setelahku para pemimpin yang kalian kenal kebaikannya dan keburukannya. Siapa yang membenci keburukannya, maka ia bebas; dan siapa yang mengingkarinya, maka ia selamat. Tetapi siapa yang ridha dan mengikutinya, maka ia binasa.”
(HR. Muslim)
Artinya, kita dibolehkan membenci kemungkaran, namun tetap tidak dibolehkan memberontak atau menentang secara frontal yang merusak tatanan.
Mendoakan Pemimpin, Bukan Mengutuknya
Dalam penutup video, Ustadz Khalid menyerukan agar umat Islam mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya, bukan mencaci atau memprovokasi. Doa seorang Muslim untuk pemimpinnya agar diberikan hidayah, keadilan, dan kesabaran, jauh lebih baik daripada ucapan kebencian yang hanya menyulut perpecahan.
Doa seperti:
“Ya Allah, bimbinglah pemimpin kami agar adil, bijaksana, dan membawa kebaikan bagi negeri ini.”
adalah bentuk kontribusi nyata seorang Muslim dalam menjaga negeri.
Kesimpulan
Kepemimpinan dalam Islam bukan hanya soal kekuasaan, tapi amanah yang berat. Sebagai rakyat dan umat Islam, kita diperintahkan untuk taat kepada pemimpin selama tidak diperintahkan kepada kemaksiatan. Menjaga lisan, menjauhi fitnah, dan mendoakan kebaikan bagi pemimpin adalah bagian dari amal shalih yang sering dilupakan.
Ustadz Khalid Basalamah mengingatkan: jika kita tidak mampu membantu pemimpin secara langsung, maka minimal jangan menjadi sumber fitnah atau pemberontakan.
Mari kita perkuat persatuan, taat kepada ulil amri, dan menjadi umat yang berkontribusi dalam menjaga stabilitas dan kedamaian negeri ini.
