Dalam ajaran Islam, adab menerima tamu adalah bagian penting dari akhlak mulia. Namun, tidak semua orang layak untuk diterima secara sembarangan—apabila seseorang menunjukkan tanda-tanda buruk seperti malas, menyakiti, atau membawa mudharat, maka Islam mengajarkan kita untuk bijaksana dalam menyikapinya. Ustadz Khalid Basalamah menekankan pentingnya menjaga kehormatan rumah dengan selektif terhadap tamu yang datang.
Ringkasan Ceramah dari Ustadz Khalid Basalamah
Dalam video singkatnya, Ustadz Khalid Basalamah menyinggung bahwa tidak semua tamu pantas masuk. Beliau mengingatkan agar kita tidak menerima tamu yang berpotensi membawa fitnah, kerusakan akhlak, atau menyulitkan tuan rumah. Adab bertamu bukan hanya soal kesopanan, tetapi juga menjaga keamanan, kehormatan, dan ketenangan rumah tangga.
Etika Bertamu dan Menolak Tamu Menurut Islam
1. Meminta Izin adalah Kewajiban Tamu
Islam sangat menekankan etika meminta izin sebelum masuk ke rumah orang lain:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sampai meminta izin dan memberi salam.”
(QS. An-Nur: 27)
Jika pemilik rumah tidak merespon izin tiga kali, tamu harus berpulang — itu lebih baik dan sesuai ajaran Nabi ﷺ.
2. Tuan Rumah Boleh Menolaknya
Islam memberi kebebasan kepada tuan rumah untuk menolak tamu tanpa merasa bersalah, terutama jika kedatangan tamu itu akan mengganggu atau menimbulkan mudharat. Hal ini didukung fatwa Islam berdasarkan prinsip tidak menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri atau rumah tangga.
3. Batas Waktu Bertamu
Salah satu adab penting: izinkan tamu menginap maksimal tiga hari. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa jamuan lebih dari tiga hari sudah bukan hak tamu lagi, melainkan menjadi sedekah jika tetap diterima—tindakan ini bisa membebani tuan rumah.
4. Tamu Tidak Sopan adalah Mudharat
Tamu yang datang tanpa izin, datang di waktu tidak tepat, atau yang merusak kenyamanan rumah—semua itu bisa menjadi mudharat. Islam tidak memaksa menerima siapa saja, apalagi yang membawa potensi dosa atau gangguan bagi keluarga.
Manfaat Menolak Tamu yang Tidak Layak
| Kebaikan | Manfaat |
|---|---|
| Menjaga privasi keluarga | Menghindari penyebaran informasi pribadi |
| Mencegah gangguan akhlak | Tamu tidak baik bisa memengaruhi moral keluarga |
| Melindungi keamanan rumah | Mencegah hal-hal negatif atau bahaya fisik |
| Menghindari beban sosial | Menjaga stabilitas hidup sehari-hari dan finansial |
Kesimpulan: Bijak Menyaring Tamu demi Kebaikan Bersama
Islam mengajarkan keseimbangan: menghormati tamu sekaligus menjaga kehormatan dan ketenteraman rumah. Sesuaikan penerimaan tamu berdasarkan adab yang diajarkan Nabi ﷺ, tidak tergesa, serta pertimbangan maslahat (kebaikan bersama). Jika tamu bisa membahayakan kehormatan atau ketenangan rumah, maka menolaknya sebagai bentuk kebaikan, bukan kasar atau tidak sopan.
