Ini Alasan Allah Sebut Dirinya “KAMI” dalam Al-Qur’an

Salah satu pertanyaan yang sering muncul ketika membaca Al-Qur’an adalah mengapa Allah menggunakan kata ganti “Kami” dalam beberapa ayat. Bukankah dalam Islam Allah itu Maha Esa dan tidak berbilang? Lantas, apa makna sebenarnya dari kata “Kami” dalam Al-Qur’an?

Dalam kajian Ustadz Adi Hidayat, beliau menjelaskan bahwa penggunaan kata “Kami” oleh Allah bukanlah tanda bahwa Allah itu lebih dari satu, tetapi ada makna linguistik dan keagungan di baliknya.

1. Allah Itu Maha Esa

Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami bahwa Allah menegaskan keesaan-Nya dalam banyak ayat, salah satunya dalam Surah Al-Ikhlas:

“Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah itu satu dan tidak bersekutu dengan siapa pun. Islam menolak konsep politeisme dan menegaskan tauhid sebagai inti ajaran.

2. Mengapa Allah Menggunakan Kata “Kami” dalam Al-Qur’an?

Dalam beberapa ayat Al-Qur’an, Allah menggunakan kata ganti Nahnu (نَحْنُ) yang berarti “Kami”. Misalnya dalam Surah Al-Hijr ayat 9:

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Beberapa alasan utama mengapa Allah menggunakan kata “Kami” dalam Al-Qur’an adalah:

a) Bentuk Ta’zhim (Pengagungan)

Dalam bahasa Arab, penggunaan kata “Kami” (Nahnu) sering digunakan sebagai bentuk penghormatan atau pengagungan (ta’zhim). Ini mirip dengan kebiasaan para raja atau pemimpin yang menyebut dirinya dengan “kami” sebagai tanda kebesaran, meskipun mereka adalah satu individu.

Allah menggunakan kata “Kami” bukan karena Dia berbilang, tetapi sebagai bentuk keagungan dan kemuliaan-Nya.

b) Mengindikasikan Kuasa Allah dalam Penciptaan

Kata “Kami” juga sering muncul dalam konteks kekuasaan Allah yang luas dan mutlak. Contohnya dalam QS. Adz-Dzariyat: 47:

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (QS. Adz-Dzariyat: 47)

Di sini, kata “Kami” digunakan untuk menunjukkan bahwa Allah memiliki kuasa penuh dalam menciptakan dan mengatur alam semesta.

c) Melibatkan Malaikat dalam Pelaksanaan Perintah Allah

Dalam beberapa ayat, penggunaan kata “Kami” menunjukkan keterlibatan para malaikat dalam melaksanakan perintah Allah. Namun, ini tidak berarti bahwa malaikat adalah bagian dari Allah, melainkan sebagai makhluk yang tunduk kepada perintah-Nya.

Contohnya dalam Surah An-Nahl ayat 40:

“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya, ‘Jadilah!’, maka jadilah ia.” (QS. An-Nahl: 40)

Di sini, Allah menegaskan bahwa perintah-Nya cukup dengan “Kun Fayakun” (Jadilah! Maka jadilah ia). Meskipun malaikat mungkin terlibat dalam pelaksanaan perintah-Nya, kekuasaan mutlak tetap ada pada Allah.

3. Kapan Allah Menggunakan “Aku” dalam Al-Qur’an?

Selain kata “Kami”, Allah juga sering menggunakan kata ganti “Aku” (Ana – أَنَا) dalam Al-Qur’an, terutama dalam konteks yang lebih personal dan khusus.

Misalnya dalam QS. Thaha ayat 12:

“Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya engkau berada di lembah suci, Thuwa.” (QS. Thaha: 12)

Di sini, Allah berbicara langsung kepada Nabi Musa dengan menggunakan kata “Aku”, menunjukkan hubungan yang lebih langsung dan personal.

4. Kesimpulan

Penggunaan kata “Kami” dalam Al-Qur’an bukanlah tanda bahwa Allah lebih dari satu. Sebaliknya, itu adalah bentuk pengagungan, penekanan atas kekuasaan-Nya, serta menunjukkan bagaimana Allah menjalankan perintah-Nya melalui malaikat.

Dalam Islam, Allah tetap Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Semoga pemahaman ini semakin meneguhkan tauhid kita dan menjauhkan dari kesalahpahaman.

Wallahu a’lam.