Dalam kehidupan rumah tangga, hubungan sosial, bahkan dalam organisasi dan masyarakat, harmoni atau keharmonisan adalah sesuatu yang sangat didambakan. Namun sering kali, keharmonisan itu terganggu bukan karena perbedaan pendapat, melainkan karena asumsi yang tidak berdasar dan komunikasi yang tidak terbuka.
Ustadz Khalid Basalamah dalam ceramah singkatnya menekankan bahwa harmoni dalam Islam dibangun di atas musyawarah, komunikasi, dan sikap saling memahami, bukan dugaan atau prasangka semata. Asumsi yang tidak diklarifikasi dapat merusak hubungan yang sebelumnya baik.
Pentingnya Diskusi dalam Islam
Allah ﷻ berfirman:
“…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…”
(QS. Ali Imran: 159)
Ayat ini menjadi dasar kuat bahwa diskusi atau musyawarah adalah bagian dari ajaran Islam, terutama dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah.
Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah suatu kaum bermusyawarah kecuali mereka akan diberi petunjuk oleh Allah kepada jalan yang terbaik.”
(HR. Ahmad)
Ini menegaskan bahwa diskusi adalah jalan menuju solusi terbaik, bukan konflik.
Asumsi Dapat Menghancurkan Hubungan
Asumsi adalah menilai sesuatu tanpa fakta yang jelas. Islam mengajarkan agar kita menjauhi prasangka buruk. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Ketika seseorang tidak menyampaikan unek-unek, tidak bertanya langsung, lalu menuduh atau menilai hanya berdasarkan perasaan atau pengamatan sepihak, maka itu adalah bibit kehancuran komunikasi dan keharmonisan.
Contoh dalam Kehidupan Rumah Tangga
Dalam video singkat yang disampaikan Ustadz Khalid Basalamah, beliau mencontohkan situasi rumah tangga:
Seorang suami melihat istrinya murung, tetapi tidak bertanya langsung. Ia malah berasumsi bahwa istrinya tidak menghargainya. Sebaliknya, sang istri merasa suami tidak peka. Kedua belah pihak akhirnya saling menjauh karena tidak adanya diskusi yang terbuka.
Padahal jika dibuka ruang komunikasi dengan cara yang baik, kemungkinan besar masalah kecil itu bisa selesai dengan cepat, bahkan menambah kedekatan.
Prinsip Diskusi Islami yang Membangun Harmoni
- Ikhlas untuk mencari solusi, bukan ingin menang.
Tujuan diskusi dalam Islam bukanlah membenarkan pendapat pribadi, tetapi mencari ridha Allah dan solusi terbaik. - Mengedepankan adab saat berdialog.
Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam berbicara dengan lembut, walau dengan orang yang berbeda keyakinan sekalipun. Dalam keluarga, apalagi, hendaknya diiringi dengan kasih sayang. - Bersikap terbuka dan saling mendengarkan.
Jangan hanya ingin didengarkan, tetapi dengarkan juga dengan baik. Allah mencintai hamba-Nya yang rendah hati dalam menerima kebenaran. - Jangan memotong pembicaraan.
Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah memotong perkataan orang lain, beliau mendengarkan dengan penuh perhatian.
Kunci Utama: Husnuzan dan Tabayyun
Dalam membangun harmoni, dua prinsip ini sangat penting:
- Husnuzan (berbaik sangka):
Menganggap baik sebelum ada bukti yang jelas sebaliknya. - Tabayyun (klarifikasi):
Bertanya dan memastikan terlebih dahulu sebelum menyimpulkan sesuatu.
Kedua prinsip ini dapat mencegah ribuan kesalahpahaman yang bisa terjadi setiap hari dalam keluarga, pekerjaan, dan lingkungan sosial.
Penutup: Bangun Harmoni dengan Diskusi, Bukan Asumsi
Jangan biarkan prasangka merusak hubungan yang telah kita bangun dengan susah payah. Keharmonisan dalam Islam dibangun dengan keterbukaan, adab dalam berbicara, dan keinginan kuat untuk menjaga ukhuwah.
Diskusi yang baik, dalam naungan niat lillahita’ala, akan membawa ketenangan, mempererat hati, dan menjadi jalan turunnya rahmat dari Allah ﷻ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan komunikasi yang baik dan menghindari asumsi, rumah tangga menjadi tenang, hubungan kerja menjadi produktif, dan masyarakat menjadi rukun.
