Dalam kehidupan, tidak sedikit ujian dan musibah datang silih berganti. Ada yang kehilangan pekerjaan, orang tercinta, atau mengalami cobaan kesehatan dan lainnya. Semua itu adalah bagian dari takdir Allah ﷻ yang harus diterima oleh setiap Muslim. Namun bagaimana caranya agar hati tetap ikhlas dan tidak memberontak? Ustadz Khalid Basalamah memberikan penjelasan yang menenangkan dan mendalam terkait cara ikhlas menerima takdir Allah dalam ceramahnya.
Takdir secara bahasa berarti keputusan atau ketentuan. Dalam Islam, takdir adalah ketetapan Allah atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, baik itu menyenangkan maupun menyedihkan. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” (QS. Al-Qamar: 49)
Ayat ini menegaskan bahwa semua kejadian telah ditulis di Lauhul Mahfuz sebelum kita diciptakan. Tidak ada yang terjadi secara kebetulan, semua berada dalam ilmu dan kehendak Allah.
Video Ringkasan: Jangan Menolak Takdir
Dalam video ceramah pendek Ustadz Khalid Basalamah di YouTube, beliau menyampaikan bahwa jika seorang Muslim tidak menerima takdir Allah, maka sejatinya ia sedang menolak qadha dan qadar-Nya. Padahal, iman kepada takdir adalah bagian dari rukun iman yang wajib diyakini. Ustadz Khalid menekankan bahwa menolak takdir hanya akan membuat hati gelisah dan jauh dari ketenangan.
Beliau memberikan contoh: seseorang ditimpa musibah, seperti gagal menikah, kehilangan orang tua, atau mengalami kegagalan dalam usaha. Jika hal ini direspon dengan amarah dan kecewa kepada Allah, maka hal itu bisa menimbulkan dosa dan menjauhkan diri dari rahmat Allah.
Namun, jika diterima dengan ikhlas dan sabar, maka Allah akan mengganti musibah tersebut dengan pahala, pengampunan dosa, dan kedudukan yang lebih baik di sisi-Nya.
Cara Agar Hati Ikhlas Menerima Takdir
Berikut beberapa nasihat dan panduan dari Al-Qur’an, Hadis, dan penjelasan Ustadz Khalid Basalamah tentang cara ikhlas menerima takdir:
1. Yakin Bahwa Allah Maha Bijaksana
Apa pun yang terjadi dalam hidup kita, Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Segala ketentuan-Nya adalah bagian dari kasih sayang dan kebijaksanaan-Nya. Allah tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, meski kadang manusia tidak memahaminya.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
2. Perbanyak Dzikir dan Doa
Dengan berzikir dan mendekatkan diri kepada Allah, hati menjadi lebih lapang dan sabar. Dalam doa pun, kita dianjurkan untuk memohon agar Allah memberi ketenangan dalam menghadapi ujian hidup.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
3. Melihat Takdir Sebagai Ladang Amal
Setiap musibah bisa menjadi pembersih dosa dan penambah pahala jika dihadapi dengan sabar. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kesedihan, kesusahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Belajar dari Kisah Para Nabi
Nabi Ayyub, misalnya, diuji dengan penyakit parah dan kehilangan semua anaknya, namun beliau tetap sabar dan bersyukur. Nabi Yusuf diuji dengan pengkhianatan, fitnah, dan penjara, tetapi beliau tetap ikhlas dan tidak menyalahkan takdir. Ini menjadi pelajaran besar bahwa jalan orang-orang saleh pun penuh ujian.
5. Ingat Bahwa Dunia Bukan Tujuan Akhir
Segala kejadian di dunia hanyalah ujian. Tujuan akhir kita adalah akhirat. Maka, jangan terlalu berharap pada dunia. Harapan terbesar kita adalah ridha Allah dan surga-Nya.
Bahaya Tidak Menerima Takdir
Ustadz Khalid Basalamah juga mengingatkan, menolak takdir bisa membawa hati pada kufur nikmat dan syirik kecil. Bahkan, sebagian orang karena kecewa dengan takdirnya, menjadi marah kepada Allah, meninggalkan shalat, dan berbuat maksiat.
Padahal, dalam Islam, ujian adalah bukti bahwa Allah masih mencintai hamba-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian. Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.” (HR. Tirmidzi)
Penutup
Menerima takdir Allah dengan ikhlas bukan berarti menyerah tanpa usaha. Justru seorang Muslim tetap harus berikhtiar maksimal, lalu berserah diri sepenuhnya kepada keputusan Allah. Itulah bentuk iman sejati. Dengan memahami konsep takdir secara benar, insyaAllah hidup kita akan lebih lapang, tenang, dan penuh keberkahan.
Nasehat Ustadz Khalid Basalamah ini sangat relevan untuk kita renungkan dalam menghadapi tantangan hidup zaman sekarang. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang sabar, ridha, dan ikhlas terhadap segala ketetapan-Nya.