Buah Istighfar dan Taubat

Pendahuluan

Dalam ajaran Islam, istighfar (memohon ampunan) dan taubat (kembali kepada Allah) merupakan amalan penting untuk membersihkan hati, menumbuhkan kedekatan dengan Allah, dan meraih keberkahan dunia akhirat. Ustadz Khalid Basalamah dalam video pendeknya menyampaikan warna utama dari manfaat istighfar dan taubat—menjadi bagian dari upaya perbaikan diri yang menyeluruh.


Ustadz Khalid menekankan satu poin inti: istighfar bukan sekadar ucapan ‘Astaghfirullah’, tetapi kekuatan penuh dari kesadaran dosa dan keikhlasan dalam memohon ampun. Buahnya sangat nyata: mengurangi beban mental, membuka pintu rizki, dan mendatangkan ketenangan dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

  • Istighfar membuka pintu keberkahan dan ketenangan hati.
  • Taubat yang sesungguhnya mencakup menyesali dosa, berhenti mengulanginya, dan bertekat untuk tidak kembali ke masa lalu.
  • Istighfar dan taubat harus berjalan bersama—istighfar sebagai pintu, taubat sebagai perjalanan panjang memperbaiki diri.

1. Istighfar dalam Al‑Qur’an dan Hadis

a. Istighfar sebagai pintu pengampunan

Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan suatu perbuatan yang tercela atau menzalimi diri sendiri, mereka mengingat Allah, lalu mereka memohon ampun atas dosa-dosa mereka…” (QS. Ali Imran: 135)

Ayat ini menegaskan bahwa kesadaran diri (taubat) dan permohonan ampun (istighfar) merupakan pasangan yang tak terpisahkan.

b. Keutamaan istighfar

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menandakan urgensi taubat dan istighfar dilakukan sedini mungkin, sebelum terlambat.


2. Buah Istighfar dan Taubat

a. Menghapus dosa

Allah menjanjikan bahwa istighfar dengan taubat bisa menghapus dosa, sebagaimana disebutkan dalam QS. Az-Zumar (39:53):

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya…’”

b. Membuka pintu rizki

Allah dalam QS. Nuh (71:10–12) memerintahkan istighfar agar diberi rizki:

“Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan deras…”

c. Hati menjadi tenang

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang hamba beristighfar dengan tulus kecuali Allah akan memberinya tiga hal: rasa aman (ketenangan), rizki, dan menghapus dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.”
Walaupun hadis ini dhaif (kelemahan sanad), namun diminati oleh ulama karena kadarnya sejalan dengan prinsip syar’i.

d. Kembali ke fitrah

Taubat adalah jalan menyucikan diri dan meluruskan arah kehidupan. Ia mengembalikan seorang hamba kepada fitrah—keadaan suci dan rela berserah kepada Allah semata.


3. Taubat: Syarat dan Prosesnya

Menurut mayoritas ulama, taubat (taubat nasuha) memiliki tiga syarat utama:

  1. Ikhlas – hanya untuk mencari ridha Allah, bukan duniawi.
  2. Taqwa – menyesali yang lalu, berhenti dari semua bentuk maksiat.
  3. Azm (niat kuat) – tekad tak akan kembali kepada dosa tersebut.

Proses taubat juga mencakup penggantian kerugian terhadap manusia (jika ada), memperbaiki hubungan silaturahmi, dan meningkatkan amal ibadah.


4. Praktik Istighfar dan Taubat Sehari-Hari

a. Mengamalkan istighfar secara rutin

Beberapa amalan yang dapat dilakukan:

  • Istighfar setelah shalat fardhu atau sunnah (seperti 100 kali istighfar setelah Subuh/Maghrib).
  • Istighfar saban berbuat khilaf bahkan kecil.
  • Doa istighfar seperti:
    “Astaghfirullah al-‘adzim… ”
    atau juga doa istighfar di malam lailatul qadar.

b. Konsisten dalam taubat

Setiap kali istighfar hati menyentuh dosa masa lalu, langsung bangun taubat: menyesali, menulis perbaikan diri, dan meminta maaf pada yang tersakiti.

c. Memperbanyak amalan pendorong taubat

Selain istighfar, perbanyak shalat sunnah, tilawah Qur’an, puasa sunnah, sedekah—semuanya meningkatkan penyerahan diri dan memantapkan taubat.


5. Kesimpulan

  • Istighfar dan taubat adalah amalan tak terpisahkan: pintu pengampunan dan jalur perbaikan diri.
  • Al-Qur’an dan Hadis sangat menekankan keduanya: menghapus dosa, membuka rizki, serta menenteramkan hati.
  • Proses taubat nasuha butuh niat, keikhlasan, dan tekad nyata.
  • Praktik harian menjadikan istighfar bukan sekadar kata, tetapi kesadaran fenomenal.
  • Buahnya: dosa terampuni, hati tenteram, hidup penuh berkah, dan hubungan dengan Allah semakin erat.