Pendahuluan
Setiap manusia yang hidup pasti akan menghadapi kematian. Ajal adalah ketetapan Allah SWT yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun, sekuat apa pun usaha manusia untuk menolaknya. Banyak orang sibuk menumpuk harta, menjaga kesehatan, dan mencari keselamatan dunia, tetapi lupa bahwa kematian adalah satu-satunya kepastian yang pasti datang.
Dalam salah satu kajiannya, Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan dengan tegas bahwa ajal tidak bisa diundur, tidak bisa dimajukan, dan tidak bisa dihindari. Video singkat beliau mengingatkan setiap Muslim agar selalu mempersiapkan diri menghadapi kematian dengan amal saleh, karena ajal datang tanpa pemberitahuan.
Ringkasan Kajian Ustadz Khalid Basalamah
Dalam video yang berjudul “Hal Ini Tidak Bisa Dihindari (Ajal)”, Ustadz Khalid Basalamah menyampaikan bahwa setiap jiwa sudah memiliki batas waktu hidup yang ditentukan oleh Allah SWT. Tidak ada makhluk yang mampu menunda atau mempercepat ajalnya.
Beliau menegaskan, manusia sering kali terlalu sibuk mengkhawatirkan masa depan duniawi — khawatir miskin, khawatir gagal, khawatir kehilangan jabatan — padahal yang paling pasti adalah kematian. Semua kekhawatiran dunia akan berhenti saat ajal tiba, dan hanya amal kebaikan yang akan menemani kita di alam kubur.
Ustadz Khalid juga mengingatkan bahwa ajal bisa datang kapan saja dan di mana saja. Maka, orang yang beriman hendaknya selalu hidup dalam keadaan siap, dengan memperbanyak istighfar, menjaga salat, dan menjauhi dosa.
Ajal dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an telah berulang kali menegaskan bahwa kematian adalah takdir Allah yang pasti dan tidak bisa ditawar. Dalam QS. Al-A’raf: 34, Allah SWT berfirman:
“Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang waktunya, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) memajukannya.”
Ayat ini menjadi peringatan bagi manusia bahwa hidup hanyalah sementara. Tidak ada jaminan seseorang akan hidup lama, karena ajal bisa datang bahkan dalam kondisi sehat dan bahagia.
Dalam QS. Ali Imran: 185, Allah SWT juga berfirman:
“Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu…”
Ayat ini menegaskan bahwa kematian bukan akhir segalanya, tetapi gerbang menuju kehidupan akhirat. Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara untuk mengumpulkan bekal menuju negeri abadi.
Hadis Nabi ﷺ Tentang Kematian
Rasulullah ﷺ mengingatkan umatnya agar selalu ingat akan kematian. Dalam sebuah hadis beliau bersabda:
“Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan, yaitu kematian.”
(HR. Tirmidzi)
Dengan sering mengingat kematian, hati menjadi lembut, nafsu dunia berkurang, dan seseorang terdorong untuk memperbaiki amalnya. Ustadz Khalid menekankan bahwa orang yang cerdas adalah yang selalu mempersiapkan diri untuk setelah mati.
Beliau juga mengingatkan hadis sahih lainnya:
“Sesungguhnya jika ajal seseorang telah datang, maka ia tidak akan ditunda dan tidak pula dipercepat walau sesaat.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa ajal bukanlah sesuatu yang bisa diubah oleh manusia. Bahkan para nabi sekalipun tidak bisa menunda ajalnya.
Menghadapi Ajal dengan Iman dan Amal
Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa ketakutan terhadap kematian bukanlah sikap seorang mukmin sejati. Justru yang harus ditakuti adalah datangnya kematian dalam keadaan buruk, yaitu tanpa iman dan tanpa amal saleh.
Beliau menegaskan, orang yang beriman tidak takut mati, karena ia tahu kematian hanyalah jalan menuju Allah SWT. Namun, orang yang lalai akan merasa gentar karena tahu belum siap menghadapi perhitungan amal.
Ada tiga amalan penting yang dapat mempersiapkan kita menghadapi ajal dengan baik:
- Perbanyak Istighfar dan Taubat.
Setiap hari manusia tidak lepas dari dosa. Dengan memperbanyak istighfar, kita membersihkan hati dan mempersiapkan diri kembali kepada Allah dalam keadaan bersih. - Jaga Salat Lima Waktu.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat adalah salat.” (HR. Tirmidzi). Orang yang menjaga salat berarti menjaga hubungannya dengan Allah. - Berbuat Baik kepada Sesama.
Amal kebaikan kepada manusia menjadi bekal yang terus mengalir, bahkan setelah meninggal dunia. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).
Hikmah di Balik Ketetapan Ajal
Mengapa Allah menetapkan ajal dan merahasiakan waktunya? Ustadz Khalid menjelaskan bahwa hal ini mengandung hikmah yang sangat dalam:
- Agar manusia selalu waspada dan tidak lalai.
Jika manusia tahu kapan ajalnya, ia akan menunda amal saleh dan baru bertaubat menjelang kematian. - Agar manusia menghargai waktu hidup.
Setiap detik kehidupan menjadi berharga karena bisa jadi itu adalah kesempatan terakhir untuk berbuat baik. - Agar manusia bergantung penuh kepada Allah.
Dengan tidak tahu kapan ajal tiba, manusia akan selalu berdoa, memohon perlindungan, dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya.
Penutup
Kematian adalah kepastian yang tidak bisa dihindari. Tidak ada tempat bersembunyi darinya, dan tidak ada kekuatan yang mampu menundanya. Maka, yang terbaik bagi setiap Muslim adalah menyiapkan diri sebelum ajal tiba.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Orang yang cerdas adalah yang menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi).
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah, dengan amal kebaikan yang diterima oleh Allah SWT.
