Inilah Hakikat Tawakal

Tawakal merupakan salah satu amalan hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Banyak orang memahami tawakal secara keliru, menganggapnya hanya pasrah tanpa usaha. Padahal, hakikat tawakal adalah menggabungkan usaha maksimal dengan menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah. Ustadz Khalid Basalamah dalam salah satu kajiannya menekankan pentingnya pemahaman yang benar tentang tawakal agar seorang Muslim tidak salah dalam bersikap.

Ringkasan Video Ustadz Khalid Basalamah

Dalam video singkat yang disampaikan Ustadz Khalid Basalamah, beliau menjelaskan bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar. Seorang Muslim wajib berusaha sesuai kemampuannya, tetapi pada saat yang sama ia harus yakin bahwa hasil akhir sepenuhnya adalah ketentuan Allah. Beliau mencontohkan, seseorang yang mencari rezeki tetap harus bekerja, berusaha, dan berdoa. Namun, jangan sampai bergantung pada usaha itu, melainkan tetap menggantungkan hati kepada Allah semata. Inilah hakikat tawakal yang benar.

Tawakal dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an secara jelas memerintahkan umat Islam untuk bertawakal kepada Allah. Dalam surat Ali Imran ayat 159, Allah berfirman:

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Ayat ini menunjukkan bahwa setelah ikhtiar dan perencanaan dilakukan, seorang Muslim harus menyerahkan urusannya kepada Allah. Tawakal adalah bukti keimanan bahwa segala sesuatu tidak akan terjadi kecuali dengan izin-Nya.

Hadis tentang Hakikat Tawakal

Rasulullah ﷺ juga memberikan penjelasan gamblang mengenai tawakal. Dalam sebuah hadis sahih riwayat At-Tirmidzi, beliau bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung yang diberi rezeki; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.”

Hadis ini mengajarkan bahwa tawakal harus dibarengi usaha, sebagaimana burung yang tetap keluar mencari makan, bukan berdiam diri di sarang tanpa usaha.

Kesalahan dalam Memahami Tawakal

Banyak orang salah memahami tawakal dengan sikap pasif. Misalnya, seseorang ingin mendapatkan rezeki tetapi tidak mau berusaha bekerja, dengan alasan tawakal. Padahal, ini adalah bentuk kesalahan besar. Ustadz Khalid Basalamah menegaskan bahwa tawakal tanpa usaha adalah sikap malas yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tawakal yang benar justru mendorong seseorang untuk aktif berusaha, lalu hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

youtube.com/shorts/ST8twyK8t4w

Kaitan Tawakal dengan Kehidupan Sehari-hari

Tawakal memiliki dampak besar dalam kehidupan seorang Muslim. Dengan tawakal, seseorang akan memiliki hati yang tenang karena ia yakin semua yang terjadi adalah ketentuan terbaik dari Allah. Dalam urusan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, hingga rumah tangga, tawakal menjadi kunci kebahagiaan. Misalnya, ketika seseorang sudah berusaha keras namun hasilnya tidak sesuai harapan, ia tetap bersyukur karena percaya bahwa Allah memberikan yang lebih baik di balik kejadian tersebut.

Hikmah dari Tawakal

Beberapa hikmah yang bisa dipetik dari sifat tawakal antara lain:

  1. Keteguhan hati – Seseorang tidak mudah putus asa karena yakin Allah selalu menolong hamba-Nya.
  2. Ketenangan jiwa – Tawakal menumbuhkan rasa damai karena tidak terlalu khawatir pada hasil.
  3. Kebebasan dari kesombongan – Orang yang bertawakal tidak merasa dirinya hebat, sebab ia tahu semua berasal dari Allah.
  4. Kekuatan dalam beribadah – Tawakal membuat seseorang semakin giat dalam berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah.

Penutup

Tawakal adalah ibadah hati yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Ustadz Khalid Basalamah menegaskan bahwa tawakal tidak pernah berarti meninggalkan usaha, melainkan menggabungkan ikhtiar dengan keyakinan penuh kepada Allah. Al-Qur’an dan hadis Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa orang yang bertawakal akan dicintai oleh Allah dan diberi ketenangan dalam hidupnya. Karena itu, mari kita perbaiki pemahaman kita tentang tawakal dan mengamalkannya dalam setiap aspek kehidupan.