Ingin Dicintai Allah? Mulai dengan yang Wajib

Setiap muslim tentu menginginkan cinta dari Allah ﷻ. Namun, banyak orang yang terkadang terlalu sibuk mengejar amalan sunnah hingga melupakan amalan yang wajib. Padahal, kunci utama meraih cinta Allah adalah dengan menunaikan kewajiban yang telah diperintahkan-Nya terlebih dahulu. Dalam kajiannya, Ustadz Khalid Basalamah mengingatkan bahwa mencintai Allah berarti memprioritaskan perintah-Nya, dimulai dari yang wajib sebelum yang sunnah.

Ringkasan Kajian Video Ustadz Khalid Basalamah

Dalam video singkatnya, Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa seseorang tidak akan bisa mendekat kepada Allah dengan amalan sunnah semata tanpa terlebih dahulu menunaikan amalan wajib. Amalan wajib ibarat pondasi sebuah bangunan. Jika pondasinya rapuh atau tidak ada, maka hiasan apapun yang kita tambahkan tidak akan membuat bangunan itu kokoh. Karena itu, sebelum memperbanyak amalan sunnah, pastikan kewajiban seperti shalat lima waktu, zakat, puasa Ramadhan, dan kewajiban lainnya terpenuhi dengan baik.

Landasan Al-Qur’an

Allah ﷻ telah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa kewajiban yang ditetapkan-Nya adalah bentuk kasih sayang dan panduan hidup bagi manusia.

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.”
(QS. Al-Baqarah: 43)

Ayat ini menegaskan bahwa kewajiban utama seperti shalat dan zakat harus dijalankan dengan penuh ketaatan. Kewajiban tersebut adalah wujud penghambaan seorang muslim kepada Rabb-nya.

Landasan Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya…”
(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa amalan wajib adalah cara terbaik untuk mendekat kepada Allah. Amalan sunnah memang dianjurkan, namun nilainya akan lebih bermakna jika kewajiban sudah sempurna.

Pentingnya Memulai dari yang Wajib

Mengapa harus mulai dari yang wajib? Karena amalan wajib adalah standar minimal seorang hamba di mata Allah. Jika seseorang meninggalkannya, maka ia berada dalam keadaan dosa besar. Sementara amalan sunnah adalah pelengkap yang memperindah ibadah. Misalnya, shalat sunnah rawatib akan terasa lebih bermakna jika shalat wajib lima waktu sudah terjaga.

Banyak orang yang terjebak dalam semangat beribadah, namun fokus pada amalan sunnah yang disukai, sementara kewajiban sering terabaikan. Hal ini ibarat membangun rumah mewah di atas tanah yang belum memiliki pondasi. Maka, Islam mengajarkan keseimbangan: sempurnakan kewajiban, lalu perbanyak sunnah.

Contoh Amalan Wajib yang Harus Dijaga

  1. Shalat Lima Waktu
    Wajib dikerjakan tepat waktu, berjamaah bagi laki-laki, dan khusyuk dalam pelaksanaannya.
  2. Zakat
    Mengeluarkan zakat bagi yang sudah memenuhi syarat adalah kewajiban yang membersihkan harta.
  3. Puasa Ramadhan
    Melaksanakan puasa sebulan penuh sebagai bentuk ketaatan dan pengendalian diri.
  4. Haji
    Bagi yang mampu secara fisik dan finansial, haji menjadi kewajiban sekali seumur hidup.

Menambah Sunnah Setelah Wajib Sempurna

Setelah kewajiban kita sempurna, barulah memperbanyak amalan sunnah seperti shalat tahajud, sedekah sunnah, membaca Al-Qur’an setiap hari, dan lain sebagainya. Sunnah menjadi penguat hubungan kita dengan Allah dan meningkatkan derajat kita di sisi-Nya.

Kesimpulan

Mencintai Allah tidak cukup hanya dengan perasaan, tetapi harus diwujudkan dengan amal yang benar sesuai tuntunan-Nya. Prioritaskan amalan wajib, karena itulah jalan terdekat menuju cinta Allah. Setelah itu, perbanyak amalan sunnah untuk menyempurnakan ibadah dan meraih kedudukan yang mulia di sisi-Nya.

“Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

Mari kita mulai dari yang wajib, lalu lengkapi dengan yang sunnah, agar cinta Allah benar-benar tercurah kepada kita.