Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang mendapatkan olokan, cemoohan, hinaan, atau ejekan dari sesamanya. Hal ini bisa terjadi karena pilihan hidup, penampilan, keyakinan, bahkan karena ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terutama bagi orang-orang yang berusaha istiqamah di jalan Allah, olokan dari manusia sering kali menjadi ujian yang cukup berat. Namun, bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi olokan manusia?
Ustadz Khalid Basalamah dalam kajiannya memberikan nasihat berharga berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah, agar setiap Muslim mampu menghadapi olokan manusia dengan cara yang benar—yaitu dengan sabar, ikhlas, dan tetap istiqamah dalam kebenaran.
Pertama, seorang Muslim harus menyadari bahwa hidup ini adalah perjalanan untuk mencari keridaan Allah, bukan keridaan manusia. Pandangan manusia sering kali berubah-ubah, dan tidak semuanya akan memahami kebaikan yang kita lakukan. Jika kita terlalu fokus pada komentar orang lain, maka kita akan kehilangan arah dalam hidup ini.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 112:
“Barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya, tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
Ini artinya, selama kita berada di jalan yang benar menurut syariat Allah, maka biarkan saja manusia berkata apa pun. Yang terpenting adalah penilaian dari Allah, bukan dari manusia.
2. Sabar dan Menahan Diri dari Membalas
Sabar adalah kunci utama dalam menghadapi olokan manusia. Allah memuji orang-orang yang sabar, karena mereka tidak membalas hinaan dengan hinaan, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan. Allah berfirman dalam Surah Fussilat ayat 34:
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”
Dengan bersabar dan tidak membalas dengan emosi, seorang Muslim justru akan menunjukkan akhlak mulia yang bisa meluluhkan hati orang yang mencela.
3. Ikuti Keteladanan Rasulullah SAW
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan terbaik dalam menghadapi olokan dan ejekan dari manusia. Sejak awal menerima wahyu, beliau sudah mendapatkan hinaan, fitnah, dan tuduhan yang sangat menyakitkan dari masyarakat Quraisy. Beliau disebut sebagai penyair, orang gila, bahkan dibilang tukang sihir. Namun, bagaimana sikap beliau?
Rasulullah SAW tetap bersabar. Beliau tidak pernah membalas cacian dengan cacian. Sebaliknya, beliau mendoakan mereka, mengajak mereka dengan akhlak yang lembut, dan menunjukkan keteladanan dalam perbuatan. Ketika beliau ke Thaif, beliau dilempari batu hingga berdarah. Tapi, apa respons beliau? Beliau tidak marah, bahkan memohon kepada Allah agar keturunan mereka diberi hidayah.
Inilah bentuk kesabaran sejati. Rasulullah memahami bahwa tugasnya adalah menyampaikan, dan hasilnya adalah hak prerogatif Allah. Ketika masyarakat belum menerima Islam, beliau tetap mengajak dengan hikmah dan akhlak mulia.
4. Perbanyak Dzikir dan Tawakal
Menghadapi ejekan dan olokan juga membutuhkan kekuatan hati. Salah satu cara menguatkan hati adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah dan bertawakal. Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang, dan tidak mudah goyah oleh kata-kata manusia.
Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Selain itu, bertawakal kepada Allah menjadikan seseorang yakin bahwa tidak ada satu pun musibah atau hinaan yang datang kecuali dengan izin Allah. Maka, tidak perlu takut pada celaan, selama kita di jalan yang benar.
5. Jadikan Olokan Sebagai Ladang Pahala
Orang yang mencaci dan mengolok kita sebenarnya sedang memberikan pahala secara cuma-cuma. Dalam hadis disebutkan bahwa jika seseorang mencaci kita dan kita bersabar, maka pada hari kiamat kelak pahala orang itu akan diberikan kepada kita. Maka, bersabarlah dan bersyukurlah, karena orang yang mengolok kita justru sedang membantu menambah timbangan kebaikan kita.
6. Fokus pada Tujuan Akhirat
Terakhir, seorang Muslim harus selalu mengarahkan pandangannya kepada akhirat. Dunia hanyalah tempat ujian. Jika kita terus memikirkan komentar manusia, maka kita akan lupa pada tujuan utama hidup, yaitu bertemu dengan Allah dalam keadaan diridai.
Orang-orang yang istiqamah akan diuji, termasuk dengan olokan. Tapi itu semua adalah jalan menuju surga. Dalam Surah Al-Insan ayat 11, Allah menyebutkan:
“Maka Allah memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan.”
Penutup
Menghadapi olokan manusia bukanlah perkara ringan, namun bukan pula alasan untuk menyerah atau berhenti dari jalan kebenaran. Dengan sabar, tawakal, dan mengikuti keteladanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, setiap olokan bisa menjadi pahala, dan setiap cemoohan bisa menjadi batu loncatan menuju surga.
Jangan biarkan komentar manusia menjauhkan kita dari Allah. Tetaplah tegar, tetaplah sabar, dan teruslah berbuat baik. Karena penilaian terbaik hanyalah dari Allah, bukan dari manusia.