3 Alasan Kenapa Ikhlas itu Susah

Pendahuluan: Memahami Ikhlas dalam Islam

Ikhlas – melakukan amal semata-mata karena Allah – adalah pilar utama dalam kualitas ibadah. Allah berfirman:

“Maka hanya kepada Allahlah aku berserah diri.” (QS. Yunus: 12)

Namun pada praktiknya, mencapai ikhlas bukan hal yang mudah. Ustadz Muhammad Nurul Dzikri melalui video pendeknya menjelaskan tiga alasan utama mengapa keikhlasan itu sulit diperoleh, dan hal ini sangat relevan untuk membangun iman yang kokoh.


1. Pengaruh Nafsu dan Ego

Nafsu manusia yang terbiasa mencari pujian, perbandingan, dan predikat sosial sangat kuat. Saat kita beramal, seringkali ada dorongan hati:

  • “Supaya aku disebut dermawan”,
  • “Agar mendapatkan pujian dari lingkungan”,
  • atau “Supaya terlihat baik di mata orang lain”.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niat…” (HR. Bukhari & Muslim)

Jika niat sudah tercampur riya’, pahala bisa rusak bahkan amal ditolak.


2. Kurangnya Pemahaman Spiritual

Tak banyak yang menyadari betapa halusnya godaan riya’ dan sum’ah. Dalam video, Ustadz Dzikri menekankan bahwa keikhlasan adalah keadaan hati yang paling dalam dan sulit dipantau secara kasat mata. Banyak yang merasa ikhlas, padahal sebenarnya masih ingin terlihat baik.

Padahal Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kadar ikhlas itu berlapis-lapis, mulai dari tingkatan riya’, sum’ah, hingga ikhlas sejati.


3. Kurangnya Pelatihan dan Latihan Rutin

Ikhlas adalah akhlak yang dibentuk melalui latihan dan pengawasan diri:

  1. Mawwasah al-nafs – introspeksi diri terus-menerus.
  2. Taubat ketika mendapati keinginan riya’.
  3. Amalan kecil yang tidak diketahui orang lain sebagai latihan ikhlas.

Tanpa latihan seperti ini, hati akan mudah kembali kepada syahwat pujian dunia.


Ustadz Muhammad Nurul Dzikri menyampaikan inti video singkatnya:

  • Pertama, manusia secara alami cinta dipuji dan terlihat baik, sehingga sangat berisiko jatuh dalam riya’.
  • Kedua, banyak orang tidak memiliki wawasan dalam mengenali syubhat ikhlas – terkadang kita diam-diam berharap diapresiasi.
  • Ketiga, ikhlas perlu dibentuk, dilatih, dan dijaga agar niat tetap murni. Latihan seperti introspeksi dan mengamalkan amalan kecil tanpa orang tahu dapat membantu.

4. Landasan dari Al‑Qur’an & Hadis

a. Al‑Qur’an:

  • “Barang siapa yang mengerjakan amal… mereka itulah orang yang beriman dengan benar.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
  • Allah menegaskan bahwa amal harus disertai niat yang benar.

b. Hadis shahih:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niat…” (HR. Bukhari & Muslim)

“Pahala amalan itu sesuai dengan maksudnya…” (HR. Bukhari & Muslim)

Niat adalah pondasi amal, dan jika tercampur syahwat manusia, nilai amal bisa rusak.


5. Strategi Praktis untuk Meningkatkan Keikhlasan

StrategiDeskripsi
Mawwasah nafsLuangkan waktu tiap hari untuk refleksi niat sebelum dan setelah beramal.
Amalan rahsiaLakukan kebaikan tanpa diketahui orang lain, misalnya bersedekah diam-diam.
Perbaiki niat secara rutinSebutkan kembali niat saat beribadah: “semoga hanya karena Allah”.
Memperbanyak dzikir & taubatMembersihkan hati dari syubhat dan merendahkan diri dihadapan-Nya.
Mendalami ilmu akhlak & niatBelajar dari para ulama untuk memahami lapisan-lapisan keikhlasan.

Kesimpulan

Ikhlas bukan sekadar niat baik; ia adalah kondisi hati yang murni, tanpa bayang-bayang riya’ atau sum’ah.
Ustadz Dzikri menegaskan tiga penghalang utama: pengaruh nafsu pujian, rendahnya pemahaman spiritual, dan minimnya latihan introspeksi.
Dengan tekad, ilmu, dan praktik konsisten, insya‑Allah keikhlasan akan tumbuh dan membuahkan amal yang diterima oleh Allah.