Rahasia Hasad, Ada yang Haram Ada yang Terpuji

Hasad atau iri hati merupakan penyakit hati yang sering menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Dalam Islam, hasad memiliki dua sisi: ada yang haram dan tercela, namun ada pula hasad yang terpuji jika ditujukan pada hal-hal kebaikan. Mengetahui perbedaan keduanya penting agar seorang Muslim dapat menjaga hati dan amalnya tetap bersih.

Allah ﷻ mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang Allah karuniakan kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain…”
(QS. An-Nisa: 32)

Ayat ini menegaskan bahwa hasad yang menyebabkan kebencian terhadap nikmat orang lain adalah sikap terlarang. Namun, jika rasa iri itu mendorong kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, maka ia bisa bernilai ibadah.

Penjelasan Ustadz Khalid Basalamah dalam Video

Dalam sebuah cuplikan kajian, Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa hasad ada dua jenis:

  1. Hasad yang Haram
    Yaitu ketika seseorang merasa tidak senang dengan nikmat yang dimiliki orang lain, berharap nikmat itu hilang, atau bahkan menginginkan keburukan menimpa saudaranya. Inilah hasad yang dilarang dalam Islam karena merusak hati dan hubungan sosial.
  2. Hasad yang Terpuji (Ghibthah)
    Yaitu iri yang bersifat positif, ketika seseorang ingin mendapatkan kebaikan yang dimiliki orang lain tanpa berharap kebaikan itu hilang darinya. Contohnya iri kepada orang yang rajin beribadah atau seorang dermawan yang gemar bersedekah, sehingga kita termotivasi untuk menirunya.

Ustadz Khalid menekankan bahwa seorang Muslim seharusnya mengarahkan hasadnya ke arah yang terpuji. Dengan begitu, rasa iri berubah menjadi motivasi untuk meningkatkan amal kebaikan, bukan menumbuhkan permusuhan.

Dalil tentang Hasad dalam Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak boleh hasad kecuali pada dua perkara: seseorang yang diberi oleh Allah kitab (Al-Qur’an) lalu ia membacanya siang dan malam, dan seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu ia infakkan siang dan malam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa hasad hanya diperbolehkan pada dua hal: iri terhadap orang yang rajin membaca Al-Qur’an dan iri kepada orang yang dermawan. Namun, iri di sini bukan berarti ingin nikmat itu hilang darinya, melainkan agar kita bisa mencontoh amal baik tersebut.

Dampak Buruk Hasad yang Haram

Hasad yang haram membawa banyak kerugian, baik secara spiritual maupun sosial:

  • Menghapus pahala amal kebaikan karena hati dipenuhi kebencian.
  • Merusak ukhuwah dengan menimbulkan konflik dan permusuhan.
  • Menyiksa diri sendiri karena terus merasa tidak puas dengan takdir Allah.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Hati-hatilah kalian dari hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
(HR. Abu Dawud)

Cara Menghindari Hasad yang Haram

  1. Ridha kepada takdir Allah – Yakin bahwa semua rezeki sudah ditentukan oleh Allah.
  2. Perbanyak doa kebaikan untuk orang lain – Dengan mendoakan, hati akan lebih tenang.
  3. Syukuri nikmat yang dimiliki – Fokus pada karunia Allah yang sudah kita terima.
  4. Berlomba dalam kebaikan – Jadikan orang lain sebagai motivasi, bukan kompetitor yang dibenci.

Hasad yang Terpuji sebagai Motivasi

Jika diarahkan dengan benar, hasad bisa menjadi energi positif. Misalnya, iri melihat teman yang rajin shalat malam akan memotivasi kita untuk bangun tahajud. Iri kepada orang yang fasih membaca Al-Qur’an akan mendorong kita memperbaiki bacaan.

Inilah yang disebut dengan ghibthah atau hasad terpuji, karena menjadikan orang lain sebagai teladan untuk meningkatkan amal ibadah.

Penutup

Hasad adalah fitrah manusia, namun Islam memberikan panduan jelas agar kita tidak terjerumus dalam iri hati yang merusak. Ustadz Khalid Basalamah menekankan bahwa hasad bisa menjadi ibadah jika diarahkan pada kebaikan, seperti iri kepada orang yang berilmu dan dermawan. Dengan mengendalikan hati dan memupuk rasa syukur, seorang Muslim bisa menjadikan hasad sebagai motivasi menuju ridha Allah ﷻ.