Jaga Lisanmu, Jangan Pernah Mencela Orang Lain

Lisan adalah salah satu anugerah besar dari Allah SWT, tetapi juga bisa menjadi sumber dosa jika tidak dijaga dengan baik. Banyak orang terjerumus dalam dosa hanya karena perkataan mereka, baik itu dalam bentuk celaan, fitnah, atau perkataan yang menyakiti hati orang lain. Oleh karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Qaf ayat 18:

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap kata yang keluar dari mulut kita akan dicatat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, mari kita pelajari bagaimana Islam mengajarkan kita untuk menjaga lisan dan menghindari mencela orang lain.

1. Bahaya Mencela Orang Lain dalam Islam

Mencela orang lain bukan hanya menyakiti perasaan mereka, tetapi juga merupakan perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT. Rasulullah SAW memperingatkan umatnya agar tidak meremehkan atau merendahkan orang lain.

A. Mencela Dapat Menyebabkan Kehancuran

Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Dia tidak boleh menzaliminya, tidak boleh menelantarkannya, dan tidak boleh menghinanya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa mencela dan merendahkan saudara sesama Muslim adalah perbuatan yang dilarang. Bahkan, Rasulullah SAW menyebut bahwa kehormatan seorang Muslim harus dijaga sebagaimana menjaga darah dan hartanya.

B. Mencela Bisa Menghapus Amal Kebaikan

Salah satu bahaya mencela orang lain adalah hilangnya pahala amal shaleh yang telah kita lakukan. Rasulullah SAW bersabda:

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta.’ Rasulullah SAW berkata, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi dia pernah mencela orang lain, menuduh orang lain tanpa bukti, dan menyakiti mereka. Maka pahalanya diberikan kepada orang yang pernah dia zalimi hingga habis. Jika amal kebaikannya sudah habis sebelum dia membayar semua kezalimannya, maka dosa orang yang pernah dia zalimi akan ditimpakan kepadanya, lalu dia pun dilempar ke neraka.’” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa mencela orang lain bisa menjadi penyebab kebangkrutan di akhirat, meskipun seseorang banyak melakukan ibadah.

2. Cara Menjaga Lisan agar Tidak Mencela

Islam mengajarkan berbagai cara untuk menjaga lisan agar tidak terjerumus dalam perbuatan tercela. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

A. Berbicara dengan Perkataan yang Baik atau Diam

Rasulullah SAW memberikan pedoman sederhana namun sangat mendalam dalam menjaga lisan:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa jika kita tidak memiliki kata-kata yang baik untuk diucapkan, lebih baik kita diam. Dengan begitu, kita akan terhindar dari mencela atau menyakiti perasaan orang lain.

B. Selalu Berpikir Sebelum Berbicara

Sebelum berbicara, tanyakan pada diri sendiri:

  • Apakah perkataan ini benar?
  • Apakah perkataan ini bermanfaat?
  • Apakah perkataan ini akan menyakiti orang lain?

Jika jawabannya tidak, maka lebih baik tidak mengatakannya.

C. Menghindari Ghibah dan Fitnah

Mencela orang lain sering kali berkaitan dengan ghibah (menggunjing) dan fitnah (menyebarkan kebohongan). Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, serta janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa menggunjing dan mencela orang lain diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati.

D. Banyak Berdzikir agar Lisan Terjaga

Salah satu cara terbaik untuk menjaga lisan adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Dengan berdzikir, kita akan lebih terjaga dari perkataan yang sia-sia atau mencela orang lain.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 41:

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)

Dengan memperbanyak dzikir, kita akan lebih terbiasa untuk berkata yang baik dan menjauhi perkataan yang buruk.

3. Keutamaan Menjaga Lisan dalam Islam

Menjaga lisan bukan hanya menghindarkan kita dari dosa, tetapi juga mendatangkan banyak keberkahan dalam hidup. Berikut adalah beberapa keutamaan menjaga lisan:

  • Mendapatkan ridha Allah SWT
  • Hidup lebih tenang dan damai
  • Dihindarkan dari permusuhan dan kebencian
  • Dimasukkan ke dalam surga

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang dapat menjamin (menjaga) untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin surga untuknya.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga lisan adalah salah satu kunci utama untuk masuk surga.

Kesimpulan

Mencela orang lain adalah perbuatan yang sangat dibenci dalam Islam. Perkataan yang buruk bisa menyakiti orang lain, menghapus pahala, dan membawa seseorang kepada kebangkrutan di akhirat.

Sebaliknya, menjaga lisan adalah salah satu tanda keimanan dan jalan menuju surga. Islam mengajarkan kita untuk berbicara yang baik atau diam, menghindari ghibah dan fitnah, serta memperbanyak dzikir agar lisan selalu terjaga.

Semoga kita semua dapat menjaga lisan dan menggunakan perkataan kita untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat. Aamiin.

Wallahu a’lam.