Begitu Rahman Rahim Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala dikenal dengan sifat-sifat-Nya yang agung dan sempurna. Dua di antaranya yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an dan menjadi pembuka hampir semua surat adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Kedua nama ini menandakan bahwa Allah adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang kasih sayang-Nya meliputi seluruh makhluk, baik yang beriman maupun tidak.

Ringkasan Ceramah: Makna Rahman dan Rahim

Dalam salah satu cuplikan video ceramahnya, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan tentang keindahan dan keluasan sifat Rahman dan Rahim milik Allah. Beliau menyampaikan bahwa “Rahman” merujuk pada kasih sayang Allah yang meliputi seluruh ciptaan-Nya di dunia, tanpa terkecuali. Baik Muslim maupun non-Muslim, semua mendapatkan nikmat dari sifat Rahman Allah—seperti udara, kesehatan, rezeki, dan perlindungan.

Sementara itu, “Rahim” adalah sifat kasih sayang Allah yang khusus diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, dan akan ditampakkan secara penuh kelak di akhirat. Ini menjadi pengingat penting bagi umat Islam untuk terus menjaga keimanan dan amal salih agar mendapatkan rahmat Allah yang istimewa.

Allah Ar-Rahman Ar-Rahim dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an secara konsisten membuka setiap surat dengan basmalah:

“Bismillahirrahmanirrahim”
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang”

Hal ini menunjukkan bahwa kasih sayang adalah dasar dari segala urusan, dan Allah mengajarkan umat manusia untuk memulai segala sesuatu dengan rahmat dan kelembutan, bukan kemarahan dan kekerasan.

Dalam Surah Al-A’raf ayat 156, Allah berfirman:

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku itu untuk orang-orang yang bertakwa, menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.”

Ayat ini menjelaskan bahwa rahmat Allah benar-benar luas, namun ada rahmat khusus yang diberikan kepada hamba-hamba yang taat dan bertakwa. Maka, rahmat Allah bukan hanya soal belas kasih duniawi, tetapi juga tentang keselamatan di akhirat.

Kasih Sayang Allah dalam Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah memiliki seratus bagian rahmat. Satu bagian diturunkan-Nya ke dunia, dan dengan itu seluruh makhluk saling menyayangi… Dan sembilan puluh sembilan bagian lainnya Allah simpan untuk hari kiamat.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menggambarkan betapa luas dan mendalamnya kasih sayang Allah, bahkan yang kita rasakan di dunia ini hanyalah 1% dari total rahmat-Nya. Maka, tidak ada alasan bagi hamba-Nya untuk putus asa dari rahmat-Nya, selama mereka mau bertobat dan kembali kepada-Nya.

Jangan Putus Asa dari Rahmat Allah

Salah satu bentuk keimanan adalah meyakini bahwa rahmat Allah lebih besar dari dosa-dosa kita. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini adalah salah satu ayat paling menghibur dalam Al-Qur’an. Ia membuka pintu harapan bagi siapa saja yang merasa hidupnya penuh dosa. Karena Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, maka tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni oleh-Nya.

Meneladani Sifat Rahman Rahim dalam Kehidupan

Sebagai umat Islam, kita juga diperintahkan untuk meneladani sifat-sifat Allah sesuai kadar kemampuan manusia. Kita dianjurkan untuk menjadi pribadi yang penuh kasih dan sayang kepada sesama, terutama kepada keluarga, tetangga, dan seluruh makhluk Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah tidak akan menyayangi seseorang yang tidak menyayangi sesama.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kehidupan sosial, sifat rahmah sangat dibutuhkan, terutama di era sekarang yang banyak diliputi konflik, kebencian, dan permusuhan. Islam datang untuk membawa kasih sayang, dan itu dimulai dari pribadi setiap Muslim.

Penutup

Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Dia Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk, dan Maha Penyayang secara khusus kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Keimanan kepada kedua sifat ini bukan sekadar pengetahuan, tetapi juga harus mewujud dalam keyakinan, amal, dan perilaku kita sehari-hari.

Sebagaimana disampaikan oleh Ustadz Adi Hidayat, ketika hidup terasa sulit, ketika ujian datang bertubi-tubi, jangan pernah lupakan bahwa Allah sedang mengasihi kita dengan cara-Nya. Allah ingin mendekatkan kita kepada-Nya, dan itu adalah bentuk kasih sayang tertinggi.