3 Jenis Ujian dari Allah SWT

Setiap manusia pasti akan menghadapi ujian dalam hidupnya. Ujian ini datang dalam berbagai bentuk, baik berupa kesulitan maupun kesenangan. Dalam Al-Qur’an dan Hadis, Allah SWT telah menjelaskan bahwa ujian merupakan bagian dari kehidupan, sebagai bentuk penyaringan dan pembelajaran bagi hamba-Nya.

Allah berfirman dalam Surah Al-Ankabut ayat 2-3:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Dalam kajian Ustadz Adi Hidayat, beliau menjelaskan bahwa ujian dari Allah SWT dapat dikategorikan ke dalam tiga jenis utama. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing jenis ujian tersebut.

1. Ujian Berupa Kesulitan (Bala’)

Ujian yang pertama adalah ujian berupa kesulitan, yang sering disebut dengan bala’. Bala’ ini dapat berupa musibah, kehilangan, penyakit, atau penderitaan lainnya. Allah SWT menjadikan ujian ini sebagai cara untuk menguji kesabaran dan keteguhan iman seorang hamba.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 155:

“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ujian berupa kesulitan ini dapat datang dalam berbagai bentuk, seperti:

  • Kehilangan harta atau pekerjaan
  • Kematian orang yang dicintai
  • Penyakit yang menimpa diri sendiri atau keluarga
  • Ketidakadilan atau perlakuan buruk dari orang lain

Dalam menghadapi ujian ini, seorang Muslim diajarkan untuk bersabar (sabar), tidak berputus asa, dan terus berprasangka baik kepada Allah SWT. Kesabaran dalam menghadapi ujian ini akan menjadi sumber pahala yang besar di sisi Allah.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, karena segala urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)

2. Ujian Berupa Kenikmatan (Fitnah)

Jenis ujian kedua yang sering kali tidak disadari oleh banyak orang adalah ujian berupa kenikmatan atau fitnah. Ujian ini bisa lebih berbahaya daripada ujian kesulitan, karena sering kali seseorang terlena dan lupa kepada Allah SWT ketika berada dalam kelapangan dan kemudahan hidup.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 28:

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28)

Ujian berupa kenikmatan ini bisa dalam bentuk:

  • Kekayaan yang melimpah
  • Kesehatan yang prima
  • Kedudukan atau jabatan tinggi
  • Banyaknya keturunan atau keluarga yang harmonis

Banyak orang yang gagal dalam ujian ini karena merasa tidak lagi membutuhkan Allah ketika dalam keadaan nyaman. Padahal, semakin besar nikmat yang Allah berikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk bersyukur dan menggunakannya di jalan yang benar.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, bagaimana ia amalkan; tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan; serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, setiap Muslim harus selalu ingat bahwa kenikmatan yang diterima bukanlah tanda bahwa Allah meridhai seseorang, tetapi bisa jadi merupakan ujian apakah ia akan tetap bersyukur dan menggunakan nikmat tersebut di jalan yang benar.

3. Ujian Berupa Ketaatan (Ibtihan)

Ujian yang ketiga adalah ujian berupa ketaatan, yang disebut juga sebagai ibtihan. Ini adalah ujian yang diberikan kepada orang-orang yang sudah beriman dan taat kepada Allah, untuk menguji ketulusan dan keteguhan mereka dalam beribadah.

Sebagai contoh, Nabi Ibrahim AS diuji dengan perintah menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Ujian ini bukan karena Nabi Ibrahim berbuat dosa, tetapi sebagai bukti keimanan dan ketaatan yang luar biasa kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ash-Shaffat ayat 106:

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash-Shaffat: 106)

Ujian ketaatan ini dapat berupa:

  • Istiqamah dalam menjalankan ibadah meskipun sulit
  • Menghadapi tantangan dan gangguan saat berdakwah
  • Meninggalkan sesuatu yang dicintai demi ketaatan kepada Allah
  • Menjaga hati agar tetap bersih dari riya’, ujub, dan sombong

Orang-orang yang lolos dari ujian ini akan mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah. Seperti dalam kisah Nabi Ayyub AS yang tetap sabar dalam menghadapi cobaan penyakitnya, Allah SWT akhirnya mengangkat derajatnya dan memberinya kesembuhan.

Kesimpulan

Setiap manusia pasti akan menghadapi ujian dalam hidupnya, baik berupa kesulitan, kenikmatan, maupun ketaatan. Sebagai seorang Muslim, kita harus memahami bahwa ujian bukanlah tanda kebencian Allah, tetapi justru merupakan bentuk kasih sayang-Nya agar kita semakin dekat kepada-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Semoga kita semua diberikan kekuatan dalam menghadapi setiap ujian yang Allah berikan, dan selalu bersabar serta bersyukur dalam setiap keadaan. Aamiin.

Wallahu a’lam.